Serangan Houthi terhadap kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran pada 13 Oktober 2026 menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko pasokan energi. Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan serangan tersebut memicu kebakaran terbatas tanpa korban jiwa maupun luka-luka. Namun, sumber perusahaan yang dikutip Reuters melaporkan kerusakan cukup luas pada beberapa lantai gedung.

Insiden ini menjadi perhatian karena Aramco merupakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia. Meski demikian, kerusakan gedung perkantoran tidak otomatis berarti produksi minyak terhenti. Dampaknya terhadap pasar perlu dilihat dari kondisi operasional perusahaan, perkembangan konflik, dan pergerakan harga energi.
Kronologi Serangan Houthi terhadap Aramco
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Pada 13 Oktober, kompleks Aramco di Dhahran dilaporkan terkena serangan rudal balistik. Reuters, dengan mengutip sumber perusahaan, menyebut tiga lantai teratas gedung perkantoran mengalami kerusakan.
Dalam laporan lanjutan pada 14 Oktober, Reuters menyebut api menyebar ke beberapa lantai, terutama di bagian gedung yang mengalami kerusakan. Kementerian Energi Arab Saudi tetap menggambarkan kebakaran tersebut sebagai insiden terbatas.
Kelompok Houthi kemudian menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Saudi. Ancaman tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur distribusi di kawasan.
Perlu dibedakan antara serangan terhadap kompleks kantor Aramco dan gangguan langsung terhadap fasilitas produksi. Sejauh informasi yang dilaporkan dalam sumber di bawah, kerusakan gedung tidak dengan sendirinya membuktikan adanya penghentian produksi atau ekspor minyak.
Baca : Konflik Saudi Houthi dan harga minyak dunia
Dampak terhadap Pasokan dan Harga Minyak
Saudi Aramco memiliki peran penting dalam produksi, pemrosesan, pengangkutan, dan ekspor minyak Arab Saudi. Gangguan pada fasilitas utama perusahaan berpotensi mempengaruhi pasokan global, tetapi besarnya dampak bergantung pada aset yang terdampak dan kemampuan perusahaan mempertahankan operasionalnya.
Reuters melaporkan pada 14 Oktober bahwa kegiatan di kompleks Aramco tetap berlangsung meskipun sebagian staf diarahkan bekerja dari rumah. Laporan tersebut tidak menunjukkan bahwa kerusakan gedung administrasi telah menghentikan produksi minyak secara keseluruhan.
Pada perdagangan 14 Oktober 2026, harga minyak Brent ditutup menguat 0,35% ke level US$106,06 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 1,01% menjadi US$95,09 per barel. Pergerakan harga minyak tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, serta risiko terhadap jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz.
Angka tersebut merupakan harga penutupan pada 14 Oktober, bukan harga terkini menjelang publikasi artikel ini. Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh persediaan, prospek permintaan, produksi negara-negara eksportir, serta perkembangan geopolitik lainnya. Karena itu, kenaikan harga pada hari tersebut tidak bisa dikaitkan hanya dengan serangan terhadap Aramco.

Perkembangan Konflik dan Potensi Dampak terhadap Forex
Ketegangan kawasan masih menjadi perhatian setelah serangan terhadap Aramco. Pada 18 Oktober, Reuters melaporkan bahwa Mesir menyatakan kesiapannya membantu mempertahankan Arab Saudi jika diminta. Perkembangan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik tidak terbatas pada satu insiden, tetapi juga berkaitan dengan kemungkinan meluasnya konflik regional.
Bagi pasar forex, ketegangan geopolitik dapat mempengaruhi sentimen risiko dan permintaan terhadap mata uang tertentu. Dolar AS terkadang mendapat dukungan ketika investor mencari aset yang dianggap relatif aman. Namun, arah pergerakannya tetap bergantung pada data ekonomi, ekspektasi suku bunga Federal Reserve, dan perkembangan pasar global.
Harga minyak juga berpengaruh terhadap mata uang melalui biaya impor energi dan ekspektasi inflasi. Negara pengimpor minyak dapat menghadapi kenaikan biaya impor ketika harga energi meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menekan neraca transaksi berjalan dan menambah tekanan inflasi, meskipun dampaknya berbeda-beda di setiap negara.
Trader perlu memantau harga Brent dan WTI, indeks dolar AS, serta pasangan mata uang yang sensitif terhadap perubahan harga energi. Saat membandingkan broker spread kecil, perhatikan pula biaya transaksi dan ketentuan trading. Spread rendah dapat membantu menekan biaya transaksi, tetapi tidak menghilangkan risiko kerugian akibat volatilitas pasar.

Indikator yang Perlu Dipantau
Untuk menilai dampak lanjutan serangan terhadap Aramco, pelaku pasar perlu memperhatikan beberapa perkembangan berikut:
- Operasional Aramco: Periksa pembaruan mengenai produksi, pemrosesan, dan ekspor minyak.
- Situasi keamanan regional: Pantau perkembangan konflik Saudi-Houthi serta risiko terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
- Harga minyak: Bandingkan pergerakan Brent dan WTI dengan data persediaan serta prospek permintaan global.
- Pasar forex: Amati indeks dolar AS dan mata uang negara pengimpor maupun pengekspor energi.
Serangan Houthi terhadap Aramco menambah ketidakpastian di pasar energi, tetapi dampak akhirnya bergantung pada perkembangan operasional dan situasi regional. Bagi trader, memisahkan fakta yang telah terkonfirmasi dari potensi risiko merupakan langkah penting sebelum mengambil keputusan berdasarkan pergerakan harga.
Sumber Referensi
- AP News – Iran-backed Houthis strike Saudi oil company’s headquarters, officials say.
- Reuters – Saudi Aramco headquarters suffered extensive damage, sources say.
- Reuters – Oil prices gain on attacks in Saudi Arabia, Iran’s new tactics to target tankers.
- Reuters – Yemen’s Houthis vow more attacks on Saudi airports, oil facilities after Aramco HQ hit.
- Reuters – Egypt says ready to give Saudi Arabia necessary support amid Houthi conflict.
Tagged With : harga minyak dunia • Serangan Houthi
