Indeks saham gabungan mengawali November 2026 dengan tekanan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.057,05 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Posisi tersebut turun 0,80% dibandingkan penutupan sebelumnya, sementara koreksi mingguan mencapai 7,03%. Perhatian pelaku pasar tertuju pada rencana reklasifikasi Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), arus modal asing, serta reformasi tata kelola pasar modal.

Memasuki Senin, 2 November 2026, penerapan kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) turut menjadi perhatian.
Pergerakan Indeks Saham Gabungan pada Perdagangan Terbaru
Berdasarkan data perdagangan BEI yang dihimpun RTI Business, IHSG turun 41,01 poin atau 0,80% pada Jumat, 30 Oktober 2026. Indeks mengakhiri sesi di level 5.057,05, dibandingkan penutupan Kamis, 29 Oktober 2026, sebesar 5.098,06.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 4.979 hingga 5.116. Indeks sempat berada di bawah level psikologis 5.000 sebelum memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan.
RTI Business mencatat sebanyak 187 saham menguat, 523 saham melemah, dan 81 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 37,62 miliar lembar saham dengan nilai sekitar Rp11,65 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sekitar 1,18 juta kali.
Secara mingguan, BEI melaporkan IHSG terkoreksi 7,03% selama periode 26–30 Oktober 2026, dari 5.439,25 menjadi 5.057,05. Kapitalisasi pasar turut menyusut 7,52% menjadi Rp8.862 triliun, dibandingkan Rp9.583 triliun pada pekan sebelumnya.
Angka tersebut merupakan hasil penutupan perdagangan terakhir sebelum pembukaan BEI pada 2 November 2026, sehingga belum mencerminkan transaksi pada tanggal pemberitaan.

Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Indeks Saham Gabungan
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian investor adalah pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 mengenai konsultasi proposal perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dalam pengumuman resminya, MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi, serta kebutuhan terhadap bukti implementasi reformasi pasar modal secara konsisten.
MSCI membuka periode konsultasi hingga 30 April 2027 dan menjadwalkan pengumuman keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Selama proses tersebut, pembekuan sejumlah perubahan terkait sekuritas Indonesia dalam indeks MSCI tetap diberlakukan. Status klasifikasi pasar ini penting karena menjadi salah satu acuan investor institusi global dalam menentukan alokasi aset.
Dari sisi domestik, BEI mengumumkan penyesuaian kriteria evaluasi IHSG melalui Pengumuman No. Peng-00201/BEI.POP/10-2026 tertanggal 21 Oktober 2026 dan dipublikasikan pada 22 Oktober. Kebijakan tersebut mengecualikan saham kategori HSC dari kriteria seleksi IHSG dan mulai berlaku pada 2 November 2026. Penyesuaian ini merupakan bagian dari reformasi metodologi untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pembentukan indeks.
Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 30 Oktober 2026 mencatat rupiah di level Rp18.138 per dolar AS, dibandingkan Rp18.128 pada hari sebelumnya.
Perubahan suku bunga dan nilai tukar berpengaruh terhadap biaya pendanaan, kewajiban perusahaan dalam mata uang asing, serta pertimbangan investor dalam menempatkan modal. Pelemahan rupiah, misalnya, berpotensi meningkatkan beban perusahaan yang memiliki kewajiban impor atau utang dalam dolar AS.
Baca : IHSG Rebound: Data dan pergerakan indeks
Sektor Saham dan Sentimen Pasar
Tekanan pada perdagangan akhir Oktober juga terlihat dari kinerja indeks sektoral. Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC yang dipublikasikan Katadata Databoks, sembilan dari sebelas sektor saham melemah pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Sektor transportasi dan logistik mencatat penurunan terdalam sebesar 3,13%, diikuti sektor barang baku yang turun 2,84% dan infrastruktur sebesar 1,96%. Sebaliknya, sektor kesehatan menguat 0,76%, sedangkan sektor keuangan naik 0,16%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak berlangsung merata di seluruh kelompok saham.
Dari sisi aktivitas investor, data perdagangan 30 Oktober 2026 menunjukkan investor asing membukukan jual bersih atau net sell sekitar Rp138,71 miliar. Transaksi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar karena arus modal asing turut memengaruhi permintaan dan likuiditas saham domestik. Meski demikian, aktivitas jual bersih asing tidak serta-merta menggambarkan kondisi setiap emiten.
Dinamika pasar saham juga berkaitan dengan perkembangan valuta asing. Perubahan rupiah terhadap dolar AS bisa mempengaruhi kinerja perusahaan yang bergantung pada impor maupun memiliki kewajiban dalam mata uang asing. Untuk memahami aktivitas perdagangan mata uang, pembaca bisa mempelajari informasi mengenai broker forex terbaik sebagai referensi edukasi pasar valuta asing.

Perkembangan IHSG dan Sentimen Pasar pada Awal November
IHSG menutup perdagangan Oktober 2026 di level 5.057,05 setelah melemah 0,80% dalam sehari dan 7,03% selama sepekan. Proposal reklasifikasi MSCI, reformasi metodologi BEI, arus modal asing, dan stabilitas rupiah menjadi faktor yang mewarnai sentimen pasar. Penerapan kriteria baru terkait saham HSC pada 2 November turut menjadi perhatian dalam perkembangan pasar modal Indonesia.
Tagged With : Bursa Efek Indonesia • IHSG
