Ekonomi Israel Mulai Merugi Bahkan Hampir Ratusan Juta Dollar Jumlahnya

Ekonomi Israel mulai merugi pada beberapa bulan ini, hal ini tentunya merupakan sebab akibat dari penyerangan terhadap Palestina. Akibat adanya penyerangan pada Palestina yang terjadi pada bulan Oktober 2023 hingga saat ini menyebabkan keuangannya mulai mengalami penurunan.

Ekonomi Israel Mulai Merugi Bahkan Hampir Ratusan Juta Dollar Jumlahnya

Hal ini tentunya telah disampaikan oleh pihak Kementerian keuangan yang menyatakan bahwa adanya Keputusan pemerintah menyebabkan ekonomi merugi. Hal ini terjadi karena adanya larangan bagi warga Palestina tepatnya pada daerah tepi barat sehingga menyebabkan banyak kekosongan pekerja.

Pihak kementerian kemudian memberikan prediksi kedepannya bahwa jika larangan ini tetap berlanjut dapat berakibat fatal terhadap perekonomian negara tersebut. Bahkan kerugian yang didapat nantinya bisa mencapai ribuan hingga miliaran shekel Israel per bulan dan berdampak pada transaksi melalui broker forex.

Penyebab Ekonomi Israel Mulai Merugi

Akibat adanya larangan bagi warga palestina untuk bekerja menyebabkan timbulnya kerugian perekonomian. Perwakilan Kementerian keuangan Knesset pada the times mengutarakan bahwa jika larangan ini terus berlanjut akan mengakibatkan kerugian ekonomi yang tentunya sangat besar.

Salah satu penyebab utama mengapa ekonomi Israel mulai merugi karena adanya krisis tenaga kerja. Hal ini terjadi karena banyak warga palestina yang sebelumnya bekerja, namun semenjak timbulnya larangan mengakibatkan terjadinya krisis pekerja hingga mencapai 30.000an.

Bahkan sejak bulan Oktober 2023 tepatnya setelah terjadinya serangan terhadap Palestina menyebabkan lebih dari 150 ribu pekerja tidak bisa masuk bekerja. Hal ini membuat Israel perlu mencari sumber daya manusia baru sebagai pekerjanya, sehingga ekonomi dapat berjalan kembali.

Membutuhkan Lebih dari 30 Ribu Pekerja Asing

Salah satu penyebab mengapa ekonomi Israel mulai merugi akibat serangannya terhadap Palestina karena disebabkan oleh krisis pekerja. Bahkan dilansir dari beberapa sumber menyatakan bahwa Israel membutuhkan tenaga kerja dari luar negeri hingga mencapai 30 ribu.

Bahkan pada pekan lalu lebih dari 10 ribu warga Palestina akhirnya akan kembali mendapat izin bekerja kembali pada bagian tepi barat. Keputusan ini terjadi karena adanya tekanan besar yang berasal dari sebagian besar pemilik usaha yang menderita secara finansial.

Bahkan presiden asosiasi perusahaan bangunan Raul Sargo menyatakan bahwa Israel sedang berada dalam kesulitan perekonomian yang sangat buruk. Namun pada awal bulan ini pihak keamanan Israel masih belum memberikan perizinan.

Selama tidak adanya solusi lebih lanjut akan membuat Israel masih bergantung dengan pekerja yang berasal dari Palestina. Jika pemerintah terus menunda permasalahan tersebut akan menyebabkan ekonomi Israel mulai merugi terus menerus.

 

Tinggalkan sebuah Komentar