Potensi Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang Mencapai 12 Juta USD

Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang

Ekspor cangkang sawit ke Jepang saat ini sangat menjanjikan. Bahkan setelah dilakukan analisa secara one on one antara pengusaha cangkang sawit di Indonesia dan pengusaha biomassa Jepang, potensinya hinga 12 juta USD.

Hingga saat ini Jepang memang menjadi pasar utama cangkang kelapa sawit bagi Indonesia. Hal ini diperkirakan akan berlanjut dalam waktu yang lama. Sebab, Jepang sedang terus mengejar target kebijakan energinya.

Negara tersebut akan mengubah 24% pemenuhan energinya menggunakan energi terbarukan pada tahun 2030. Ekspor ini dilakukan ke berbagi perusahaan biomassa asal Jepang yang linknya sudah tersedia.

Dalam bidang produksi cangkang kelapa sawit, Indonesia masih memegang peringkat tertinggi di dunia. Bahkan jumlah ekspor komoditas ini setiap tahunnya selalu meningkat dengan berbagai negara tujuan.

Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang

Sepanjang tahun 2021 Indonesia berhasil melakukan ekspor kurang lebih 31 ribu ton ke Jepang. Besarnya nilai ekspor tersebut dikarenakan adanya pertemuan bisnis dan kerja sama antara Indonesia dan Jepang yang baik.

Dengan rincian 10 ribu ton kepada PT International Green Energy, 11 ribu ton kepada PT Prima Khatulistiwa Sinergi, dan 20 ribu ton untuk PT Jatim Properindo yang bekerja sama dengan perusahaan Jepang.

Dengan jumlah ekspor sebanyak itu, maka tidak heran komoditi ini membuka potensi transaksi ekspor mencapai 12 juta USD. Saat ini nilai USD ke rupiah adalah Rp.14.414. Update kurs ini dapat dilihat di broker octafx.

Baca juga : uero dan pound berhasil pulih melawan dollar as

Anda dapat melihat kenaikan dan penurunan forex, khususnya USD. Bagi pelaku ekspor, besar kecilnya kurs menjadi hal yang sangat penting karena akan mempengaruhi jumlah omzet dan keuntungan.

Tidak hanya Jepang, terdapat beberapa negara lain yang menjadi tujuan ekspor yaitu Thailand, India, dan Korea Selatan. Tapi, Jepang memegang 84,5% pangsa pasar cangkang kelapa sawit asal Indonesia.

Tapi, Indonesia harus berkompetisi dengan Malaysia. Sebab, produksi cangkang sawit di Negara Tetangga tersebut cukup baik. Harganya juga relatif murah dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.

Lain halnya seperti di Indonesia yang harganya cenderung fluktuatif. Agar dapat mematok harga murah, harus ada perbaikan di bidang birokrasi dan bea keluar.

Dengan tercapainya kestabilan harga, maka akan semakin banyak negara yang tertarik memesan kepada Indonesia. Dengan demikian, potensi kenaikan ekspor cangkang sawit akan memperoleh keuntungan lebih besar.

Tinggalkan sebuah Komentar