Fokus Berita Ekonomi Forex Hari Ini Kamis 22 Oktober 2020

Perdagangan di sesi Asia hari Kamis sampai menjelang pembukaan pasar Eropa, banyak sekali aset-aset berisiko global yang mencatatkan penurunan. Di sisi lain permintaan terhadap aset-aset safe haven mengalami lonjakan yang signifikan beberapa waktu terakhir bersama aliran risk off ini.

Masalah Geopolitik Menurunkan Permintaan Aset Berisiko

baca juga disini : Cara Membedakan Broker Forex Syariah dan Konvensional

Beban aset-aset berisiko global terjadi ketika FBI melalui direkturnya yaitu Chris Wray bersama direktur intelijen AS yaitu John Ratcliffe menyampaikan laporan penemuan terbaru. Mereka mengatakan bahwa saat ini ada dua negara yang ikut campur dalam pemilihan Presiden AS 3 November mendatang. Dua negara itu adalah Rusia dan Iran yang secara langsung membuat permintaan aset berisiko langsung anjlok tajam.

Para pejabat AS mengatakan mereka yang ikut campur akan dibebani biaya pemilihan umum Presiden AS jika saja masih melangkah lebih jauh lagi. Beberapa aset berisiko langsung mencatatkan pelemahan akibat berita negatif ini. kontrak berjangka S&P 500 mengalami penurunan yang sangat signifikan mencapai 1,0% bersama dengan sebagian besar saham Asia.

Pasangan mata uang EURUSD dan juga GBPUSD juga mengalami penurunan di bawah 0,20% akibat berita ini. Aset safe haven seperti Dolar AS langsung menunjukkan taringnya dengan bangkit dari terendahnya. Sehingga membuat lawan-lawan utamanya seperti Euro dan Poundsterling Inggris mencatatkan pelemahan.

Beban selain masalah geopolitik yang harus ditanggung adalah masalah stimulus virus Corona AS. Pasalnya Presiden Trump berdasarkan laporan terbaru menyampaikan kecaman kepada Partai Demokrat. Karena dinilai mereka tidak mau melakukan kompromi dan membuat peluang adanya kesepakatan dana sebelum pemilihan presiden AS menjadi turun tajam.

Poundsterling Masih Berjuang Melawan Pandemi dan Risiko Brexit

baca juga disini : Broker Forex ECN dan STP Terbaik Untuk Trader Pemula

Bersama dengan aliran dana risk off yang terjadi beberapa waktu terakhir, pasangan mata uang GBPUSD mencatatkan penurunan sampai 0,18% menuju ke nilai tukar 1,3127. Dengan pelemahan yang terjadi baru-baru ini aka Poundsterling terus menghapuskan kenaikan yang sangat mengesankan sebelumnya.

Secara luas penurunan ini memang diakibatkan oleh pemulihan Dolar AS dari titik terendah karena aliran risk off yang mendominasi. Banyaknya masalah global membuat pembelian Dolar AS kembali dilakukan untuk menjaga nilai aset.

Lebih rinci lagi sebenarnya mata uang Poundsterling Inggris masih cukup terbebani oleh masalah Brexit yang sangat penuh ketidakpastian. Uni Eropa dan Inggris sama-sama tidak mau berbicara mengenai pembicaraan Brexit. Banyak yang khawatir bahwa keduanya tidak memberikan persetujuan pada beberapa masalah inti yang sulit untuk bisa mencapai persamaan pendapat.

Apalagi sebelumnya ketua negosiasi dari Uni Eropa yaitu Michel Barnier memberikan komentar yang membuat pasar langsung berhati-hati. Dia mengatakan bahwa kesepakatan keduanya harus bisa menghormati kedaulatan dari Inggris dan juga otonomi dari Uni Eropa.

Ketika Inggris belum selesai pada masalah Brexit, mata uang Poundsterling Inggris kembali menerima beban pada masalah perekonomian. Deputi Gubernur BoE yaitu Dave Ramsden mengungkapkan kekhawatiran lonjakan pengangguran yang ada di Inggris. Kemudian tingkat pertumbuhan upah juga bisa terganggu atau bahkan gagal jika pandemi masih menyerang Inggris dengan suram.

Ekonomi Inggris semakin suram ketika jumlah kasus virus Corona terus mengalami kenaikan yang sangat besar. John Edmunds yang menjadi anggota SAGE mengatakan bahwa harus hidup dengan virus ini selamanya. Karena peluang virus bisa dibersihkan cukup kecil. Hari Rabu kemarin Inggris melaporkan kasus 26.688 dengan kematian 191 orang dalam 28 hari terakhir. Pidato Gubernur BoE Bailey akan diperhatikan pasca ungkapkan Ramsden sebelumnya.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar