Fokus Berita Ekonomi Forex Hari Ini Rabu 21 Oktober 2020

Pergerakan selama beberapa waktu terakhir, mata uang Dolar AS mencatatkan pelemahan yang cukup signifikan. Tolak ukur kekuatan greenback melawan beberapa mata uang utama global ini bahkan memperpanjang pelemahan selama tiga hari tanpa jeda. Untuk saat ini indeks Dolar AS Dxy bergerak di sekitar level 92,97 yang merupakan titik paling rendah sejak 21 September lalu.

Dolar AS Melemah Meski Ada Kenaikan Pada Yield Treasury AS

A trader shows U.S. dollar notes at a currency exchange booth in Peshawar, Pakistan December 3, 2018. REUTERS/Fayaz Aziz

lihat juga disini : Pengertian Scalping Pada Trading Forex

Sementara itu pada hari Selasa kemarin, indeks juga turun sangat signifikan mencapai 0,40%. Salah satu katalis penyebabnya adalah nada optimis yang datang dari masalah stimulus ekonomi AS dan juga vaksin virus Corona. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap aset safe haven seperti Dolar AS melemah cukup signifikan.

Aset berisiko global seperti kontrak berjangka S&P 500 baru-baru ini mampu menampilkan bahwa arah risiko sedang dalam penguatan diikuti juga oleh saham Asia. Permintaan aset berisiko yang naik memaksa Dolar AS tumbang melawan beberapa mata utang berisiko termasuk mata uang Euro.

Padahal selama beberapa waktu terakhir, ada nada kenaikan yang datang dari imbal hasil obligasi Treasury AS dalam tenor 10 tahun. Yield Treasury tersebut saat ini berada di 0,80% atau naik menuju ke puncak paling tinggi sejak 10 Juni lalu. Pada kondisi normal seharusnya kenaikan yield akan membantu Dolar AS untuk mencatatkan penguatan.

Namun sayangnya semua itu tampak diabaikan sepenuhnya oleh para pelaku pasar dan investor. Sehingga membantu pasangan mata uang seperti EURUSD adn AUDUSD untuk mencatatkan kenaikan. Meskipun sebenarnya dalam jangka panjang antara Euro dan Dolar Australia terancam akan melemah sangat signifikan.

Risiko pelemahan itu datang ketika ekonomi kedua negara sangat terpuruk beberapa waktu terakhir. Untuk kawasan Eropa sendiri terus melaporkan adanya lonjakan kasus yang sangat besar. Bahkan dilaporkan pandemi gelombang kedua ini lebih suram dari gelombang pertama Maret kemarin. Kondisi ini memaksa pemerintah memberlakukan lockdown dan pastinya akan berdampak buruk bagi ekonomi serta memaksa ECB memberlakukan pelonggaran yang lebih dalam.

Nada Risiko Dari Stimulus AS Membantu AUDUSD Melonjak Lebih Tinggi

Bersama dengan nada risiko yang sedang berlaku beberapa waktu terakhir yang memaksa Dolar AS melemah, mata uang Dolar Australia berhasil naik dengan baik. Saat menjelang pembukaan pasar Eropa hari Rabu (21/10 pasangan AUDUSD bergerak di sekitar nilai tukar 0,7082. Ini sekaligus menjadi puncak paling tinggi dalam pergerakan harian.

lihat juga disini : Review Kelebihan dan Kelemahan Broker EXNESS

Sementara itu saat sesi awal Asia tadi pagi mata uang Dolar Australia sempat tidak mengalami pergerakan walaupun data ekonomi utama membaik. Aussie merilis data mengenai penjualan eceran dengan ashil membaik menuju ke -1,5% dari laporan sebelumnya yang berada di -4,4%.

Namun ketika dampak data itu tidak direspon, beberapa jam setelahnya Dolar Australia tampak berhasil memanfaatkan nada risk on yang terjadi di pasar global. Salah satu penyebab risk on adalah adanya kemajuan signifikan pada dana stimulus ekonomi AS. Ketua DPR AS yaitu Nancy Pelosi memberikan kejelasan pada masalah stimulus ini dan menghidupkan harapan pengesahan dana stimulus.

Beberapa saat sebelumnya pemimpin sebagian besar Senat yaitu Mitch McConnell menyatakan penolakan atas permintaan Trump. Dia mengatakan berharap dana ini bisa disahkan sebelum pemilihan bulan November mendatang. Mungkin hal inilah yang membuat sentimen risiko sedikit gagal mendorong AUDUSD saat sesi awal Asia tadi pagi.

Meski saat ini AUDUSD melonjak tinggi ketika Dolar AS melemah, risiko pelemahan Dolar Australia masih terbuka lebar. Salah satu penyebabnya adalah peluang pemangkasan suku bunga bulan November oleh RBA yang cukup tinggi.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar