Inflasi di China Naik Dikarenakan Harga Daging Babi

Inflasi di China Naik Inflasi di China naik pada bulan November 2021 lalu ke level paling tinggi selama satu tahun terakhir. Kenaikan inflasi di negeri tirai bambu tersebut disebabkan oleh tingginya harga sayur mayur dan juga daging babi.

Biro Statistik China juga telah merilis indeks harga konsumen atau CPI, indikator utama yang turut serta menyumbangkan inflasi ritel tercatat hingga mencapai 2,3 persen. Namun tetap tertinggi sejak bulan Agustus 2020 lalu. Sehingga angka tersebut memang berada di bawah ekspektasi.

Dong Liyuan selaku ahli statistik senior NBS menjelaskan mengenai kenaikan harga sandang pangan, terlebih lagi untuk daging babi yang mana menjadi daging pokok di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di seluruh dunia itupun jadi pukulan pada para konsumennya.

Baca juga : Utang melewati rekomendasi IMF, BPK beri peringatan

‘’Kenaikan harga tersebut disebabkan meningkatnya permintaan konsumsi untuk daging babi, namun persediaan pasokannya masih sangat langka,’’ ungkapnya, seperti yang dilansir dari AFP, pada hari Kamis, 9 Desember 2021. Khusus untuk Anda yang ingin bermain trading forex, mungkin bisa langsung mencoba melalui broker fbs terpercaya disini.

Inilah Penyebab Terjadinya Inflasi di China Naik

Inflasi di China meningkat karena faktor yang memengaruhinya, terhitung secara bulanan, harga daging babi pun mengalami kenaikan hingga 12,2 persen. Laporan Capital Economics menyebutkan bahwa kalangan masyarakat pun mulai menimbun daging babi selama musim dingin.

Yang artinya pasokan tersebut sebenarnya tidak terjadi penumpukan. Julian Evans Pritchard seorang Ekonom Senior Capital Economics menjelaskan indeks harga konsumen di China sudah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini dikarenakan daging babi.

Terutama sesudah flu babi di benua Afrika. Gangguan selama panen sayur mayur disebabkan oleh buruknya cuaca pun ternyata turut ambil andil di dalam inflasi konsumen untuk sektor pangan.

Untungnya, inflasi pabrik di negara tersebut tercatat turun dari level tertingginya selama 26 tahun silam tepat di bulan November kemarin. Data terbaru juga menunjukkan bahwa indeks harga produsen atau IPP turun jadi sekitar 12,9 persen.

Indeksi harga tersebut mengalami penurunan sesudah pemerintah setempat merilis kebijakan untuk membatasi kenaikan dari harga batu bara dan juga logam hingga harga dan pasokan relatif stabil, namun tetap dengan inflasi di China naik tidak bisa dielakkan.

Tinggalkan sebuah Komentar