Mata Uang Asia Naik Sebagai Imbal Hasil Data Ekonomi AS

Rilisnya data ekonomi AS menyebalkan mata uang Asia naik dalam perdagangan setelah beberapa hari sebelumnya mengalami perlemahan yang cukup signifikan.

Mata Uang Asia Naik Sebagai Imbal Hasil Data Ekonomi AS

Terhitung bahkan mulai dari hari pertama perdagangan brokerindofx.com minggu ini mata uang dari Asia mengalami perlemahan terus menerus. Salah satu penyebab utamanya adalah makin menguatnya dolar Amerika Serikat.

Terutama sebagai efek tingginya suku bunga bank yang telah ditetapkan oleh Federal Reverse. Federal Reverse atau the fed sendiri menetapkan untuk mempertahankan suku bunga banknya yang tinggi hingga akhir tahun.

Akibat dari banyaknya data-data tersebut secara tidak langsung indeks dari kurs negara Asia berkembang mengalami kenaikan. Karena banyak data ekonomi Amerika Serikat justru mampu meredakan tingkat kekhawatiran akan USD yang akan terus menerus menaikkan posisinya dalam pasar.

Mata Uang Asia Naik Pada Perdagangan Hari Ini

Pada perdagangan hari ini banyak indeks mengalami kenaikan nilai dari sebelumnya, bahkan dalam perdagangan awal minggu ini banyak indeks mengalami penurunan nilai. Namun dengan adanya update dari data-data ekonomi AS perlahan membuat banyak indeks Asia mengalami kenaikan.

Secara rata-rata indeks dari Indonesia, Singapura, dan Taiwan mengalami kenaikan sekitar 0,4% hingga 1,2% dari sebelumnya. Selain itu, mata uang Asia naik seperti ringgit yang sempat mengalami kenaikan sebesar 0,2% sedangkan untuk rupiah sendiri masih dalam posisi flat.

Namun kondisi yields rupiah sendiri sudah mendekati level tertinggi dalam perdagangan 10 tahun terakhir. Namun kenaikan tersebut juga diikuti dengan turunnya nilai saham dari beberapa negara seperti filipina, Thailand, serta korea Selatan sebesar 0,2 hingga 1,1%.

Keadaan Mata Uang Asia Lainnya

Mata uang Asia naik dalam perdagangan exness pro Kamis 5 Oktober 2023 sebagai akibat melemahnya yields USD akibat data ekonomi terbarunya. Peso filipina sendiri menanggapi perlemahan ini dengan meningkatkan nilainya sebesar 0,2% namun indeks sahamnya turun dengan nilai 1,1%.

Untuk korea Selatan sendiri sedang berjuang dengan tingkat inflasi miliknya karena dalam beberapa bulan terakhir nilai inflasinya sudah melampui target. Hal tersebut membuat saham turun sebesar 0,2% namun nilai dari won sendiri menguat sebesar 0,2%.

Baht Thailand sendiri belum bisa memanfaatkan momentum karena tingginya nilai inflasi dalam negara tersebut. Akibatnya baht mengalami penurunan sebesar 0,1% diikuti turunnya indeks sebesar 0,2% dan yields 10 tahunan sebanyak 3,312%.

Melemahnya USD sendiri menjadi momentum tersendiri bagi beberapa negara di Asia karena akhirnya mata uang Asia naik setelah beberapa hari terperosok akibat dollar.

Tinggalkan sebuah Komentar