Nilai Rupiah Menurun, Yen Jepang Naik dan Penyebabnya

Nilai rupiah menurun, yen Jepang naik apa penyebabnya? Pada pertengahan perdagangan Senin (26/12/2022), nilai rupiah menurun yang awalnya stagnan terhadap dolar Amerika Serikat. Akan tetapi mayoritas mata uang di Asia cukup sukses dan menguat.

Nilai Rupiah Menurun, Yen Jepang Naik

Mengacu pada data Refinitif di brokerindo, dalam pembukaan perdagangan rupiah stagnan di RP15.590/USD. Akan tetapi, nilai rupiah terkoreksi 0,36% menjadi Rp15.630/USD pada pukul 11.00 WIB.

Penyebab Nilai Rupiah Menurun

Pada Jum’at 23 Desember 2022, dalam rilis inflasi inti PCE atau Personal Consumption Expenditure sebagai acuan bank sentra AC bernama Federal Reserve alias The Fed dalam menentukan regulasi moneternya yang menyebabkan nilai rupiah menurun.

Ukuran inflasi Fed meningkat 0,1% buka bulan lalu pada basis bulan ke bulan, tetapi turun dari kenaikan bulanan sebesar 0,4% di bulan Oktober. Kemudian hal ini meningkat 5,5% pada basis year-to-year di bulan November, dan sejak Oktober turun dari 6,1%.

Tidak termasuk komponen makanan dan energi yang mudah menguap, indeks harga PCE meningkat 0,2% pada bulan November, turun dari 0,3% di bulan sebelumnya. Kemudian dalam 12 bulan sampai November 2022 meningkat 4,7%. Dibandingkan kenaikan 5,0% year-on-year di bulan Oktober yang mana masih jauh lebih tinggi dari target 2% The Fed.

Karena hal itu menyebabkan potensi The Fed untuk meningkatkan suku bunga untuk acuan di tahun 2023, sehingga nilai rupiah menurun.

“Pasar ekuitas cukup salah menilainya, mereka mengira The Fed pada 2023 nanti akan berhenti dan akan menurunkan suku bunganya. Tetapi saat ini, saya tidak melihat hal itu terjadi dalam waktu dekat”, kata Paul Nolte manajer portofolio di Manajemen Aset Kingsview oleh Reuters.

Hampir mirip, Kepala Ekonom LPL Financial Jeffrey Roach menilai angka inflasi AS dari IHK atau Indeks Harga Konsumen yang melandai pada November 2022 nilainya masih cukup tinggi .

“Inflasi jasa bertahap mereda tetapi masih terlalu panas bagi pembuat regulasi”, Kepala ekonom LPL Financial Jeffrey Roach.

Selain itu, pada pasar tenaga kerja dinilai masih terlalu ketat dalam menopang ekonomi dengan menghasilkan kenaikan upah yang solid dan berkontribusi pada belanja konsumen lebih tinggi. Tingkat pengangguran pada 3,7% baru meningkat dari level terendah 50 tahun sebesar 3,5% karena perusahaan terus bersaing untuk mendapatkan pasokan pekerja yang terbatas.

Sentimen penekanan yang kian menekan pergerakan mata uang asia, di mana menyebabkan nilai rupiah menurun sekitar 0,26% terhadap dolar AS, disusul rupee india 0,05% dan 0,01%, Sedangkan mata uang Asia lainnya berhasil menguat, seperti yen Jepang sebesar 0,26% dan dolar Taiwan 0,18% terhadap dolar AS.

. Modal asing masuk RI, pertanda baik atau buruk?

 

Tinggalkan sebuah Komentar