Pasar Siap Hadapi Risiko No Deal Brexit, Pound Jatuh

Poundsterling melemah lebih dari 1 persen dalam sepekan ini versus Euro, Dolar, dan mata uang mayor lainnya. Di sesi perdagangan Jumat malam ini. Voliatilitas melonjak karena pasar meningkatkan kesiapan mereka menghadapi risiko keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan perdagangan alias No Deal Brexit.

GBP/USD turun 0.65 persen ke 1.3207, level terendah sejak tanggal 16 November, sekaligus kinerja terburuk sejak bulan September. Terhadap Euro, Pound juga anjlok sekitar 0.6 persen ke 0.92, terendah dua setengah bulan.

BoJo Minta Semua Siap No Deal Brexit

PM Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa saat ini masyarakat harus bersiap menghadapi kemungkinan Brexit ala Australia, yang artinya tidak ada hasil kesepakatan apapun. Kendati dirinya masih berusaha untuk mencapai kesepakatan, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa ada sebuah kemungkinan yang kuat jika Inggris dan UE akan gagal sepakat.

Kesepakatan harus dicapai sebelum tanggal 31 Desember, dimana merupakan tenggat waktu masa transisi Brexit. Johnson mempertanyakan desakan UE yang menekan Inggris agar dapat secara dinamis menyelaraskan dengan aturan mereka di masa depan. Hal itu mengesankan bahwa UE memang menghindari adanya kesepakatan.

Klausul penyelarasan dinamis berarti bahwa jika UE mengubah aturannya tentang standar bisnis di masa depan, maka Inggris harus mengikutinya atau berisiko dihukum. “Sangat penting bahwa setiap orang sekarang bersiap-siap,” kata Johnson.

“GBP terus memamerkan volatilitas price action… setelah PM Johnson mengingatkan untuk bersiap akan absennya kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa,” kata analis Citi, Kurran Taylor.

Tak hanya Pound, saham-saham bank Inggris juga terlumat oleh isu Brexit ini. Barclays, Lloyds dan Natwest turun lebih dari 4 persen. Sedangkan FTSE merosot antara 6-10 persen.

Sementara itu, analis lain menilai bahwa pasar saat ini terlihat berpuas diri. Kepala RBC Capital Markets Elsa Lignos, mengatakan bahwa peluang kesepakatan dagang tercapai di tahun 2020 ini masih fifty-fifty, mengingat penurunan Sterling yang hanya sekitar 1 persen saja.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar