Pertemuan OPEC+ Tanpa Kesepakatan, Harga Minyak Melonjak

opec gagal kata sepakatHarga minyak mengalami lonjakan yang cukup drastis ke level tertingginya dalam hampir tiga tahun pada penutupan perdagangan Senin atau Selasa Pagi (WIB). Harga minyak melonjak meski pembicaraan OPEC+ dan sekutunya tidak menghasilkan apa-apa dan ditunda tanpa batas waktu.

Kelompok produsen minyak mentah justru gagal mencapai kesepakatan, terutama yang berkaitan dengan kebijakan produksi Agustus dan bulan berikutnya.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate menjadi patokan untuk harga minyak AS. Hal itu mengalami kenaikan 1,56% atau 1,17USD menjadi 76,33USD per barel. Angka ini termasuk sebagai level tertinggi sejak Oktober 2018.

Sedangkan harga minyak Brent yang biasanya dijadikan patokan internasional naik 1,2% atau 93 sen menjadi USD 77,10 per barel.

Proses diskusi antara anggota OPEC dan negara produsen minyak lain atau OPEC+ sebenarnya sudah dimulai sejak minggu lalu. Sayangnya negara-negara aliansi energi itu berusaha untuk menetapkan kebijakan produksi untuk sisa tahun ini.

Sebagian anggota OPEC+ juga sudah memberikan proposal pengembalian produksi 400.000 barel per har ke pasar untuk setiap bulannya, terutama dari Agustus hingga Desember.

Namun ada juga anggota OPEC+ yang lain mengusulkan untuk memperpanjang pemotongan produksi hingga akhir 2022.

Pertemuan Kali Ini Belum Menemukan Kesepakatan Apapun

Uni Emirat Arab salah satu yang menolak proposal ini, pembicaraan belum mampu mencapai konsensus. Awalnya diskusi akan dilanjutkan senin kemarin tetapi akhirnya dibatalkan juga. Tak heran jika akhinya harga minyak melonjak cukup drastis ke level tertingginya.

Sektretaris Jenderal OPEC, Mohammad Barkindo menyatakan “Tanggal pertemuan selanjutnya akan segera diputuskan pada waktunya”.

Baca Juga Disini : Dollar As Melemah,Tunggu Laporan Gaji Untuk Meredakan Bunga Acuan

Kelompok produsen perlahan-lahan mengembalikan jumlah produksi ke Pasar akibat langkah OPEC+ yang bersejarah pada April 2020. Langkah menghapus produksi hampir 10juta barel per hari ditujukan untuk mendukung harga karena permintaan terhadap minyak sedang anjlok.

Menjelang pertemuan minggu lalu, sebagian besar Analis Wall Street menilai kelompok tersebut akan meningkatkan produksi dalam upaya mengekang lonjakan harga.

Harga minyak melonjak tersebut sedikit banyaknya memberikan sentimen terhadap pergerakan USD terhadap nilai tukar mata uang terutama negara produsen minyak.

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar