Pasar energi global kembali menunjukkan gejolak yang signifikan. Pasalnya, harga minyak dunia bergejolak yang sempat menyentuh level terendah, kini mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Kendati demikian, kestabilan belum benar-benar tercapai. Hal tersebut mengingat sentimen pasar masih dibayang-bayangi oleh ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang. xm indonesia

Fluktuasi Harga Minyak Dunia Dari Lesu ke Tinggi
Berdasarkan laporan terkini, minyak global mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan hari Selasa (waktu internasional) atau Rabu 07/05/25 (waktu Jakarta). Pemulihan tersebut terjadi sehari pasca harga minyak jatuh ke level terendah sejak Februari 2021.
Baca juga : Leverage trading adalah : pengertian, keuntungan dan resikonya
Mengutip laporan CNBC, harga minyak Brent meningkat sebesar USD 1,92 atau 3,19%. Sehingga di tutup pada USD 62,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik sebesar USD 1,16 atau 3,43%. Kemudian di tutup di level USD 59,09 per barel.
Faktor Pemicu Lonjakan Harga
Kedua jenis minyak acuan tersebut mencatatkan pemulihan setelah sehari sebelumnya mengalami penurunan tajam. Penurunan yang terjadi sebagai respons terhadap keputusan OPEC+. Di mana OPEC+ memutuskan akan meningkatkan produksi minyak mentah secara lebih agresif selama dua bulan berturut-turut.
Kebijakan OPEC+ yang mempercepat penambahan pasokan minyak adalah faktor penting dalam fluktuasi harga ini. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia, memilih untuk melonggarkan pembatasan produksi.
Selain itu, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah turut menyumbang kekhawatiran pasar. Misalnya saja, serangan Israel terhadap kelompok Houthi yang dukung Iran di Yaman menjadi perhatian utama. Terlebih kawasan tersebut merupakan jalur vital distribusi energi global. Ketegangan geopolitik ini berdampak langsung terhadap premi risiko pada harga minyak dunia.
Selain itu, peningkatan permintaan Tiongkok juga menjadi pendorong positif. Setelah libur panjang selama lima hari dalam rangka perayaan May Day, konsumen menunjukkan kenaikan aktivitas ekonomi. Termasuk pengeluaran untuk sektor energi.
Sementara, di Eropa juga mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan konsumsi bahan bakar. Seiring dengan membaiknya cuaca yang mendukung perjalanan.
Harga Kembali Melemah
Namun, tren pemulihan harga minyak dunia bergejolak nyatanya tidak berlangsung lama. Pada penutupan perdagangan hari Rabu, 7 Mei 2025 (8 Mei 2025 WIB), harganya kembali mencatatkan penurunan. Pemicu utamanya yaitu pernyataan terbaru Federal Reserve AS yang menyebutkan ketidakpastian pasar keuangan global masih sangat tinggi.
Minyak mentah Brent tercatat turun sebesar USD 1,03 atau 1,66%. Ditutup pada USD 61,12 per barel di London ICE Future Exchange. Sedangkan WTI mengalami penurunan sebesar USD 1,02 atau 1,73%. Ditutup pada USD 58,07 per barel di New York Mercantile Exchange.
Dari perkembangan yang ada, para analis memperkirakan bahwa fluktuasi harga minyak dunia akan terus terjadi dalam waktu dekat. Kenaikan maupun penurunan harga dalam beberapa hari terakhir lebih menyerupai pantulan jangka pendek bandingkan tren yang berkelanjutan. Ini membuat pelaku pasar harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di sektor energi.
