Banyaknya negara yang melakukan dedolarisasi menjadi bukti dominasi dolar AS semakin terkikis. Tidak sedikit negara memutuskan menggunakan mata uang lokal dalam bertransaksi. Tantangan terang-terangan terhadap dolar AS tambah menguat.

Contohnya dari kelompok ekonomi besar. Pengalihan dari USD dilakukan dengan menciptakan jaringan pembayaran sendiri. Pembangunan sistem baru komprehensif sebenarnya telah disiapkan sejak lama.
Umumnya negara yang melakukan dedolarisasi ingin melakukan perdagangan mata uang lokal dengan maksimal. Berbagai kelompok bekerja sama membentuk kembali keuangan global. Caranya dengan upaya terkoordinasi sehingga bisa lebih sukses.
baca juga : Volatilitas Pasar Akan Meningkat Jelang Data PBB dan Inflasi
Selain itu berusaha keras membuat solusi pembayaran lebih inovatif dari sebelumnya. Ternyata penyebab dedolarisasi dilakukan cukup unik. Republik Indonesia sendiri memiliki cara khusus untuk menghadapinya di masa depan.
Negara-Negara yang Melakukan Dedolarisasi Saat Ini
Berdasarkan WatcherGuru, negara paling aktif melaksanakan dedolarisasi terus bertambah banyak. Tentu memiliki tujuan sama yakni mengurangi ketergantungan terhadap USD. Tidak heran melakukan inovasi dan kerja sama satu sama lain.
Salah satu negara yang melakukan dedolarisasi adalah Tiongkok. Sistem pembayaran CIPS menghubungkan lebih dari 1.300 bank dunia. Transaksi harian sukses tumbuh 50% pada 2022 dan naik lagi 25% pada 2023.
Saat ini UnionPay telah berfungsi di 180 negara di mana memiliki 7,5 miliar kartu. Pembayaran yuan mencapai angka 47% dalam perdagangan internasional Tiongkok. Tentu menjadi kemajuan signifikan Tiongkok mengurangi USD.
Sementara itu Rusia tidak kalah memangkas kepemilikan dolar AS sebanyak USD101 miliar. Lalu membangun SPFS sebagai pengganti SWIFT. 30 bank Rusia bergabung bersama CIPS, di mana 70% perdagangan memakai yuan.
Negara lainnya seperti India memulai dedolarisasi pada 2023. Saat ini bank 20 negara membuat rekening khusus rupee India. Selain itu melakukan tanda tangan perjanjian komprehensif bersama Arab Saudi dan UEA.
Negara yang melakukan dedolarisasi selanjutnya yaitu Brasil di mana membuka bank kliring yuan pertama pada 2023. Lalu bergabung bersama CIPS dengan kemitraan strategis. 5,37% yuan menyumbang cadangan devisa bagi Brasil.
Untuk kawasan Asia Tenggara, Kamboja, Thailand dan Indonesia berusaha melakukannya sejak lama. Kamboja tumbuh dengan ekspor manufaktur, pembangunan ekonomi hingga pariwisata sehingga mata uang lokal menguat.
Kasus Kamboja mirip dengan Thailand sehingga sama-sama mengurangi pemakaian dolar dari investor asing. Untuk Indonesia sendiri terdukung oleh sistem QRIS. Alhasil inklusi keuangan hingga integrasi regional bisa dioptimalkan.
Dedolarisasi Disebabkan Kehati-hatian Negara Mempertahankan Ekonominya dari Pengaruh Eksternal
Peralihan negara yang melakukan dedolarisasi semakin menguat karena kehati-hatian dalam mempertahankan ekonomi dari pengaruh eksternal. Terutama yang berhubungan dengan kebijakan Amerika Serikat (AS) karena sangat berpengaruh.
Contohnya jika Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga. Umumnya negara berkembang harus menghadapi tantangan lebih besar. Belum lagi jika uang meninggalkan negaranya sehingga kesulitan untuk melunasi utang.
Artinya berisiko menyebabkan tekanan ekonomi yang jauh lebih besar. Masalah tekanan ekonomi buruk sehingga banyak negara mencari alternatif sistem dolar. Termasuk dengan mengembangkan suatu mekanisme keuangan bersifat independen.
Misalnya negara Belarus yang saat ini sepenuhnya memanfaatkan sistem SPFS Rusia dalam transaksi regional. Ada juga Armenia yang meningkatkan perdagangan mata uang lokal dengan bank CIS maupun jaringan keuangan.
Keduanya termasuk negara yang melakukan dedolarisasi aktif. Saat ini tidak bergantung sistem keuangan Barat. Lalu memperkuat koneksi perbankan regional dengan pembayaran inovatif hingga sistem pengiriman pesan terintegrasi.
Walaupun semakin gencar, sebenarnya kejayaan USD masih belum bisa digoyahkan. Berdasarkan data terbaru, sistem pengiriman pesan pembayaran SWIFT memberi bukti jika penyelesaian pergadangan memakai USD meningkat sampai 9%.
Sementara itu, untuk mata uang yuan tidak kalah menguatnya. Berdasarkan data sudah meningkat 2% pada 2023 dan menjari 5% pada 2024. Artinya yuan masih kalah bersaing dengan USD sampai sekarang.
Potensinya menggantikan USD masih membutuhkan waktu lama. Khususnya dalam pangsa pasar global yang masih memanfaatkan penggunaan USD sampai sekarang. Bahkan pembayaran global pada tahun 2024 sudah menyentuh 49% dengan USD.
Indonesia Bersikap Waspada, Sementara Trump Akan Menghukum Negara Pembuang Dolar
Manuver negara yang melakukan dedolarisasi saat ini menunjukkan komitmen cukup besar. Capres AS yaitu Donald Trump telah membeberkan bagaimana cara untuk menghadapi dedolariasi dalam perdagangan internasional terbaru.
Dalam kampanyenya, Trump menyebutkan jika pembuangan USD dapat menjadi kerugian besar bagi negara asing yang melakukannya. Bahkan Trump mengancam dengan menjatuhkan pajak impor jika memutuskan menggunakan sistem non-USD.
Disebutkan jika siapapun yang meninggalkan USD, artinya tidak ingin berbisnis dengan Amerika Serikat. Tren luas dalam penggunaan mata uang lokal meraih momentum pasca pembatasan besar-besaran ekonomi Rusia dari Amerika Serikat.
Penyebabnya karena eskalasi konflik Ukraine yang terus berlanjut. Setelah terputus dengan sistem keuangan Barat, Rusia membuat opsi alternatif. Moskow dan mitra BRICS telah memakai mata yang nasional pada 65% perdagangannya,.
Saat ini ASEAN menjadi kelompok negara yang melakukan dedolarisasi. Rencana pengalihan USD ke mata uang lokal dinilai mencapai angka USD4 triliun. Diharapkan dapat menjadi opsi penguatan regional di masa mendatang.
Sementara itu Trump sebelumnya berjanji secara substansial mengurangi penggunaan sanksi Washington. Apalagi jika berhasil terpilih pada pemilihan presiden. Masalah kerugian USD ternyata menjadi faktor yang cukup diutamakan.
Untuk pebisnis forex, tentunya dedolarisasi memberikan banyak dampak. Misalnya saja berkurangnya permintaan terhadap dolar AS. Selain itu bisa meningkatkan volatilitas pasar forex karena pergeseran komposisi mata uang seluruh dunia.
Belum lagi menyebabkan ketidakstabilan politik global, kebijakan ekonomi sampai kurangnya kepercayaan kestabilan ekonomi AS. Dibutuhkan langkah tepat untuk berbisnis forex karena banyak negara yang melakukan dedolarisasi secara aktif.
