Pelemahan Nilai Rupiah terhadap dolar AS bergerak dengan signifikan. Nilai Tukar Rupiah ditutup di level Rp 14,877 per USD pada Rabu 7 Juni 2023. Pelemahan Rupiah disebut karena penguatan dolar AS yang signifikan setelah data perdagangan China mengecewakan.

Surplus perdagangan Tiongkok pada bulan Mei 2023 disebut merosot ke level paling rendah di dalam 13 bulan terakhir. Ini terutama karena penurunan ekspor yang mengejutkan. Apalagi ketika melihat permintaan asing untuk barang-barang Tiongkok yang semakin rendah.
Baca juga : Suku Bunga ECB Akan Naik Lagi Untuk Bulan Juni
“Kemerosotan ekspor mulai menjadi indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi sedang ada di Eropa dan AS. Sementara pasar utama Tiongkok untuk barang-barang yang diproduksi secara lokal telah mendorong permintaan dolar,” ungkap Ibrahim Assuaibi.
Analis pasar uang dari broker exness review, juga menyebabkan kalau kenaikan dolar terbatas karena pedagang yang menunggu pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu depan. Ketidakpastian ini yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi AS sebelum menaikkan biaya pinjeman.
Neraca dan Data Perdagangan China Membuat Pelemahan Nilai Rupiah
“Surplus perdagangan China yang lebih rendah dari perkiraan 92 miliar dolar AS,” ucap Analis Senior Lukman Leong. Dia juga mengatakan kalau harapan untuk China dapat rebound kuat sejak re-opening, tetapi sampai saat ini ekonomi masih cenderung mengecewakan.
Sebelumnya, impor China mengalami kontraksi tajam pada bulan April. Sementara ekspor naik dengan kecepatan yang lebih lambat. Ini berarti aktivitas perdagangan di China tetap memburuk, meskipun pembatasan Covid-19 telah dicabut.
Pasar uang memberi harga dengan peluang sekitar 19 persen. Bank sentral akan menaikkan sebesar 25 basis poin minggu depan, dan ini akan menyebabkan surplus neraca perdagangan kemungkinan akan menipis di sebagian besar broker forex terpercaya.
“Dolar AS sendiri diperkirakan masih akan ada di zona range bound. Pelemahan nilai Rupiah sendiri masih didukung sentimen positif domestik, dan akan menguat walau tidak akan besar,” kata Lukman.
Neraca perdagangan Indonesia sudah mencatat surplus dalam 36 bulan beruntun. Ini menjadi salah satu pendongkrak kinerja Rupiah dan menyebabkan pasokan valas ke dalam negeri lebih besar. Pelemahan nilai Rupiah menjadi imbas dari kegiatan ekonomi AS yang lebih cepat.
